Rabu, 10 Juli 2024

Pak

Akhir-akhir ini sedang viral lagunya Sal Pribadi yang berjudul Gala Bunga Matahari, yang bercerita tentang seseorang yang sudah meniggal dunia. Saat mendengar itu saya juga ikut tenggelam dalam kisahnya karena saya sendiri sudah ditinggal oleh Bapak. Sudah 11 tahun bapak meninggal, terkadang saya rindu kondisi dimana masih ada bapak, dimana ibu saya masih sehat, saya belum banyak pikiran. 

Teruntuk Bapak

Melihat hari ini kondisi sudah sangat berbeda, Pak. Ibu sekarang sudah menginjak usia senjanya, sudah sakit sakitan, sudah tidak bisa melakukan kegiatan seperti dulu, sekarang saya yang mengambil alih tugas ibu terkait pekerjaan rumah tangga bahkan terkait kemasyarakatan. Bahkan juga sebagian tugas bapak sebagai pemenuh kebutuhan rumah tangga. Ternyata berat ya pak, saya tidak bisa seperti Ibu dalam memegang urusan rumah tangga dan kemsyarakatan, tapi tidak apa-apa akan saya jalani apa yang ada meski di dalam perjalannya banyak omongan orang, karena saya tidak seaktif ibu. Meski berat saya tetap bersyukur, Pak karena ibu masih ada di rumah, saya masih bisa melihat dan merawat ibu, masih bisa berkumpul dengan keluarga. Semoga kita berkumpul lagi di Surga ya pak, aamiin...


Banjarnegara, 10 Juli 2024

Jumat, 29 Juli 2016

Semakin dekat

Waktu yang semakin dekat ini memang harus digunakan untuk semakin mendekatkan diri ke Allah. Banyak bisikan sana sini, ujian sana sini, pikiran yang semakin panas. Jika hati tidak dingin maka hati akan menjadi panas. Kuatkanlah kaki ini untuk tetap tegar, maafkan jika ada kata tak sesuai terdengar. Karena yang dicari keberkahan maka semoga perjalanan pun akan menjadi berkah. Semoga menjadi awal yang baik bagi kita untuk memulai, memulai perjalanan baru dalam hidup kita. Kali ini aku benar2 mengerti akan detik2 menuju perubahan status hidup, tak akan lagi memikirkan diri sendiri. Perasaan yang campur aduk, pikiran yang melayang layang, tangan dan kaki ikut melemas. Aku ingin dekat ya mendekat pada Rabb pencipta alam, aku sudah rindu. Sepekan berada di masa spesial para wanita. Namun, setiap malam aku pun terbangun. Terbangun karena mendengar doa dan tangisan bundaku. Terbangun saat tangan kasarnya mengelus rambutku yang tertidur ah tepatnya pura2 tidur sambil menahan air mata agar tak terjatuh. Ya dua malam bersamanya setiap malam bunda mengelus wajahku sambil mendoakan kebaikan untuk putrinya. Mungkin perasaan campur2 yang dirasakan bunda yang sebentar lagi akan melepaskan putri kecilnya. Yang akan menjadi yang terakhir dilepas oleh bunda.
Nanti saat perubahan status itu tiba, mungkin akan susah untuk mendapat belaian tangan bunda.  Namun, nanti ada tangan lain yang akan membelai dengan penuh rasa cinta pada Nya, akan ada doa terucap dari mulut orang lain yang nanti menjadi orang yang paling dekat denganku. Dan nanti biarlah tanganku ini yang akan membelai lembut kekasih halalku, biarlah nanti mulut ini berdoa untuknya setiap malam, biarlah nanti air mata ini mengalir karena rasa syukur akan kehadirannya. Menanti dia dengan penuh rasa nano.

Kamis, 16 Juni 2016

Senyum (:

Gimana pun keadaannya harus tetap senyum. Gimana pun!

Susah dong... Ya kalau belum terbiasa memang susah rasanya tapi bisa kok. Awalnya dipaksa dlu abis itu kan jadi terbiasa...
Apalagi kalau mukanya muka jutek... Hehehe.. .
Iya kalau diem keliatan jutek gitu. Jadi harus sering2 senyum.

Dan kamu tau... Senyumu itu ibadah. Dan kebanyakan orang akan seneng arau membalas senyum kalau kita senyumin.. .

Dan senyumanmu itu manis dan bikin adem hati... Jadi tetep semangaaaat yaaa...

Semoga jadi penggugur dosa...

11 Ramadhan 1437
16 Juni 2016

Senin, 13 Juni 2016

Menunggu

Pasti sebagian besar orang tidak suka menunggu, khususnya menunggu sesuatu yang belum pasti. Namun, bedakah dengan menunggu dengan sesuatu yang sudah pasti? Menunggu waktu berbuka datang misalnya, kita akan bersabar dan menhisi waktu sesuai selera sampai waktu tiba berbuka. Ada yang memilih bekerja dengan penuh semangat tapi ada juga yang memilih bermalas-malasan, itu semua pilihan. Lalu bagaimana dengan menunggu kematian? Padahal kematian itu lebih pasti. Mungkin tepatnya bukan menunggu tapi mempersiapkan. Layaknya menunggumu datang, karena kamu danbkematian berlomba2 mendatangiku, apakah kamu dlu ataukah kematian dulu? Semua masih rahasia Allah. Yang jelas terus mempersiapkan diri baik itu dalam menunggumu atau kematian karena jika tak sampai bertemu denganmu, aku sudah berjuang dan berusaha, paling tidak aku sudah pernah merasakan manisnya menunggumu.

Kamis, 09 Juni 2016

Apa yang kau sedihkan, hati?

Bukankah harusnya kamu bersyukur wahai hati? Lihatlah kenikmatan yang begitu besar yang Allah berikan pada seluruh jiwa dan raga yang kau tempati ini. Mau kita sebut sedikit saja, nafas yang tak berhenti, perut yang bisa diisi setiap berbuka dan sahur, nikmat melihat, memegang, mendengar, masalah rezeki? Lihatlah betapa Allah tak membiarkan jiwa yang kau tempati ini memakan rezeki yang tidak halal. Lihatlah meski harus berpeluh atau membuang gengsi sejauh-jauhnya, rezeki terus saja mengalir kan? Dan kamu tau wahai hati, rezeki itu bentuknya banyak. Teman2 yang baik, tempat tinggal yang damai, ah banyak sekali. Lalu apa yang kau sedihkan wahai hati? Hingga kamu ingin menyerah (lagi)? Kali ini ujian yang sama ujian tentang kesedihan hati, harusnya kali ini kamu lolos wahai hati. Mengulang ujian sejenis bukankah melelahkan? Kapan kamu akan lolos dan naik tingkat? Semangat karena Allah ya...  Allah tidak pernah tidur, Allah melihat setiap detikmu apa yang tampak atau yang tersembunyi, Dia Maha Mengetahui. Janganlah berekspetasi terlalu tinggi pada dirimu sendiri. Bersyukurlah dan bahagialah. Paling tidak sembunyikan kesedihan dan tangisanmu di waktu hanya kau dan Allah saja. Jangan biarkan makhluk Nya tahu. Meski ada telinga yang bersedia mendengar tangismu, ah sudahlah.


Kuncinya adalah bersyukur. Buang jauh2 pengharapan dunia. Kejarlah cinta Allah.

Ya Allah aku rindu. Rindu bercerita panjang, aku rindu rumah Mu. Rindu masjid2 Mu, rindu kekasih2 Mu.

Wahai hati, taukah bahwa akhirat harusnya lebih kau perhatikan dari dunia. Bahwa akhirat itu lebih kekal dan abadi, jalan menijunya adalah kematian. Siapkah kau menjumpai kematian?

Alhamdulillah masih diberi kesempatan tersadar. Alhamdulillah hari ini dipertemukan mobil brutal hingga membukakan hatiku bahwa kematian itu sebenarnya dekat.


4 Ramadhan 1437
9/6/16
#73